Senin, 02 Januari 2023

Sejarah Gedung Sate





Gedung Sate merupakan salah satu ikon kota Bandung yang sangat dikenal. Gedung ini merupakan lokasi bersejarah sekaligus tempat wisata Bandung yang banyak dikunjungi. Gedung Sate ini mempunyai sejarah panjang yang dimulai semenjak masa Kolonial Belanda. Peletakan batu pertamanya dilakukan dalam 27 Juli 1920 yang dihadiri Johanna Catherina Coops merupakan putri tertua Wali Kota Bandung dan B. Coops serta Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal dari Batavia. Perancang gedung bersejarah ini dilakukan oleh beberapa arsitek Ir. J. Gerber dari Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks,serta V.L Slors sebagai Direktur dari " Gemeentelijk Bouwbedrijf " (Dinas Bangunan Kotapraja) merancang konstruksi dan denah tata letak bangunan perkantoran pemerintah Hindia Belanda. Lokasinya mengambil tempat pada sebidang lahan seluas 27.000 meter persegi. Lahan tadi disediakan oleh " Gemeente Van Bandoeng " berdasarkan " Raadbesluit " tanggal 18 Desember 1929, yang dikukuhkan lewat surat tanggal 25 Januari 1930.

Gedung Sate ini juga mengadopsi beberapa gaya arsitek dalam beberapa bagian gedung ini, desain ventilasi mengusung konsep Moor Spanyol. Gedung ini memakai contoh Rennaisance Italia, contoh atap mengadopsi unsur Asia misalnya Pura di Bali dan Pagoda di Thailand. Ornamen batu yang terdapat pada gedung ini juga tak jarang disebut-sebut sebagai adopsi berdasarkan arsitektur Candi Brorobudur.





Pembuatan gedung ini dilakukan pekerja sebanyak 2.000 orang dan 150 orang pemahat yang berdasarkan aneka macam keahlian di sekitar Bandung. Pembangunan berlangsung selama 4 tahun dan terselesaikan dalam September 1924. Awalnya gedung ini dipakai buat kegiatan Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan umum sampai pernah menjadi pusat Pemerintahan Hindia Belanda di Bandung.
Menurut sumber catatan , gedung Sate merupakan bangunan pertama di Bandung yang menggunakan konstruksi beton bertulang.

Bangunan ini disebut Gedung Sate karena di puncak bumbungan atapnya terdapat tiang penangkal petir yang menusuk 6 bulatan bola, hingga menyerupai sebatang sate. Hal ini melambangkan biaya pembangunan Gedung Sate yang telah banyak mengeluarkan biaya sebesar 6 juta gulden.







Pada 3 Desember terjad insiden bersejarah pada gedung ini yaitu adanya korban jatuh sebanyak 7 orang lantaran ingin mempertahankan Gedung Sate ini dari serbuan pasukan Gurkha. Untuk mengenang 7 pemuda tadi, maka dibuatlah tugu batu yang terdapat di halaman belakang Gedung Sate. Kemudia pada 3 Desember 1970 atas perintah dari Menteri Pekerjaan Umum, tugu tadi akhirnya dipindah ke halaman depan gedung tadi. Sejak 1980 hingga sekarang bangunan yang beralamat di Jalan Diponegoro no 22, Gedung Sate Bandung ini menjadi Kantor Gubernur sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.












Reff : Buku Semerbak di Bandung Raya
Bandung.go.id
katadata.co.id







0 comments:

Posting Komentar